Pengkajian Hukum Empiris

Kata “pengkajian” sebagai terjemahan dari kata study dan bukan sinonim dari kata “penelitian” menunjukkan bahwa semua kegiatan pengkajian yang kemudian diinformasikan dalam bentuk tertulis, apapun bentuknya, pada hakikatnya adalah hasil suatu penelitian. Adapun makna yang terkandung dalam rumusan judul ini, bukanlah suatu cara atau metode penelitian, melainkan menunjukkan objek yang dapat diteliti, yaitu hukum yang berada dalam dunia empiris. Karena  bukankah yang empiris atau yang non-empiris itu adalah substansinya, bukan pada ilmu hukumnya.


Adakah Metode Penelitian Hukum Itu…?

Banyak dari beberapa pakar mengungkapkan bahwa para penulis buku tentang metodologi atau metode penelitian hampir seluruhnya (untuk tidak mengatakan bahwa tidak ada dari kalangan ilmuan hukum) adalah dari kalangan Sarjana Ilmu Sosial. Menurut Soetandyo Wignyosoebroto (1990), Ilmu Hukum dan Ilmu-ilmu Sosial menggunakan Metodologi Penelitian menurut  tradisi Sains. Yang dimaksud adalah Ilmu-ilmu Alam (natural sciences). Saintisme ini lahir dalam abad rasionalisme tatkala alam yang terbentang di depan amatan inderawi ini juga telah dipandang sebagai kebenaran logis. Alam semesta yang tampil secara fisik pada hakikatnya adalah manifestasi nyata sebuah idea logika: ia adalah “a natural logic”. Oleh karena Saintisme itu lahir sejalan dan sewaktu dengan lahirnya Empirisme  (yang di negeri-negeri Kontinental disebut Positivisme) maka objek kajiannya adalah objek-objek yang menggejala di alam pengamatan inderawi (empiri) dan atau di alam pengamatan yang kebenarannya dapat ditangkap secara inderawi (alam positif).

Berbeda dari ilmu-ilmu Sosial yang sejak awal  tanpa ragu menamakan dirinya social sciences, Ilmu Hukum sebagaimana diajarkan di Indonesia (yang mengikuti tradisi reine Rechtslehre atau rechtsgeleerheid atau jurisprudence) sesungguhnya tidaklah terbilang ke dalam kerabat Sains. Ilmu Hukum (di Indonesia) menurut Soetandyo Wignyosoebroto (1992a) tidaklah ditradisikan dalam alur sains sebagai legal science.

Meskipun Ilmu Hukum dan Ilmu-ilmu Sosial mengikuti Metodologi Penelitian menurut tradisi Sains, tradisi keilmuan hukum yang tidak termasuk dalam alur sains, dan tidak adanya Metodologi Penelitian khusus Ilmu Hukum (setidak-tidaknya untuk pengkajian hukum empiris) mengharuskan para ilmuan hukum memanfaatkan metodologi yang dikembangkan oleh Ilmu-ilmu Sosial. Oleh karena Ilmu-ilmu Sosial mendasarkan metodologinya pada tradisi Sains, maka dalam berbagai kepustakaan Metodologi Penelitian senantiasa dikemukakan definisi bahwa suatu penelitian ilmiah (scientific research) itu adalah empiris (gejala pengalaman indrawi) dan positif (alam pengamatan indrawi). Dua diantara definisi-definisi itu dapat dikemukakan berikut ini:

  1. Scientific research is systematic, controlled, empirical, and critical investigation of hypothetical propositions about the presumed relations among natural phenomena (Fred N. Kerlinger, 1973).
  2. Penelitian merupakan aktivitas menelaah suatu masalah dengan menggunakan metode ilmiah secara terancang dan sistematis untuk menemukan pengetahuan baru yang terandalkan kebenarannya (objektif dan sahih) mengenai “dunia alam” atau “dunia sosial” (Sanapiah Faisal, 1989).

Definisi yang pertama dengan tegas mencamtumkan criteria empiris agar suatu penelitian dapat dikategorikan bersifat ilmiah. Definisi yang kedua tidak mencantumkan kriteria tersebut, tetapi objek yang dapat diteliti adalah mengenai “dunia alam” dan “dunia sosial” yang seperti telah disinggung sebelumnya, merupakan objek-objek yang menggejala di alam pengalaman inderawi (empiri) serta alam pengamatan inderawi (positif) yang dikenal dalam tradisi Sains.

Jika disyaratkan keharusan empiris dan positif, maka bagaimanakah Ilmu Hukum menggunakan metodologi penelitian menurut tradisi Sains atau memanfaatkan metode penelitian Ilmu-ilmu Sosial (yang juga mengacu pada Sains)?. Jawaban untuk pertanyaan ini dapat ditelusuri dalam Tipologi Penelitian Hukum (Soetandyo Wignyosoebroto, 1974) yang membedakan empat tipe penelitian hukum, yakni:

  1. Penelitian berupa usaha inventarisasi hukum positif;
  2. Penelitian berupa usaha penemuan asas-asas dan dasar falsafah (dogma dan doktrin) hukum positif;
  3. Penelitian berupa usaha penemuan hukum in concreto yang layak diterapkan untuk menyelesaikan suatu perkara hukum tertentu;
  4. Penelitian berupa studi-studi empiris untuk menemukan teori-teori mengenai proses terjadinya dan proses bekerjanya hukum dalam masyarakat.

Sebagai penjelasan mengenai tipologinya itu, Soetandyo Wignyosoebroto (1974) menganalogikan Penelitian Hukum dengan Kajian Biologi yang dibedakan atas the skin-in biology dan the skin-out biology. Yang pertama mempelajari organism sebagai kesatuan system yang dipandang lepas dari lingkungan sekitarnya, sedang yang kedua mempelajari organisme hanya sebagai satu unsur dari suatu system makro yang senantiasa berinterrelasi dan berinteraksi dengan anasir lain disekitarnya. Hukum pun dapat dikaji sebagai suatu skin-in system (mengenai law in the books) dan skin-out system (mengenai law in action). Tipe penelitian yang pertama, kedua dan ketiga termasuk dalam kajian skin-in system, sedang yang terakhir merupakan kajian skin-out system.

Dalam kajian hukum yang skin-out system, hukum tidak dipandang sebagai suatu gejala normative-otonom melainkan sebagai suatu institusi sosial yang mempunyai saling hubungan dengan institusi-institusi sosial lainnya. Dengan demikian, tipe penelitian yang keempat itu merupakan kajian sosial yang nondoktrinal dan empiris. Hukum dipandang sebagai suatu gejala sosio-empiris. Sebagai gejala sosio-empiris, hukum dapat dipelajari sebagai independent variable yang menimbulkan efek-efek pada berbagai aspek kehidupan (misalnya dalam kajian mengenai law in action dan legal impacts) dan sebagai dependent variable yang muncul sebagai hasil dari berbagai ragam kekuatan dalam proses sosial (kajian mengenai law in process, misalnya). Dilihat dari substansinya, kajian ini merupakan spesialisasi Sosiologi Hukum (Sociology of Law) manakala fokusnya tertuju pada hukum sebagai dependent variable, sedang jika hukum dipandang sebagai independent variable, maka ini merupakan kajian Hukum dan Masyarakat (Law and Society).

Keempat tipe penelitian hukum itu tampak jelas bahwa keterbedaannya berpangkal pada ancangannya (approach) terhadap hukum sebagai suatu konsep. Kedua ancangan yang menghasilkan empat tipe penelitian itu, oleh Soetandyo Wignyosoebroto diidentifikasi sebagai metode penelitian hukum doktrinal (ancangan skin-in system), sedang yang skin-out system sebagai metode penelitian hukum non-doktrinal. Tipologi tersebut kemudian dikembangkan berdasarkan ancangan terhadap konsep hukum.

About these ads

6 Balasan ke Pengkajian Hukum Empiris

  1. Dody mengatakan:

    OKE MAS. Terimakasih sekali atas saran dan informasinya. Tulisan anda sangat membantu saya dalam penulisan tugas saya. Mas juga bisa mengunjungi website kantor saya di http://www.pusdiklat-fh-uii.net . Kita bisa saling bertukar informasi. terimakasih. sukses sll buat mas.

  2. madzz mengatakan:

    katanya tukeran link punya mu dah aq pacang loohh

  3. madzz mengatakan:

    loh kook lum di pasang ccc

  4. Dewi Veryani mengatakan:

    sy tertarik dgn tulisan mengenai penelitian hukum yg empiris, jika berkenan tlng sy di beri bahan2 mengenai tata cara penulisan sebuah penelitian….krna sy sangat kurang memahami sebuah penelitian…
    teriring salam hormat sy dan ucapan terimakasih byk…
    Dewi.

  5. refen mengatakan:

    tolong jelaskan kedudukan ilmu empiris dalam ilmu hukum??

  6. susi mengatakan:

    trm kasih tulisan sngat bermanfaat skali buat saya,smg lebih banyak lagi tulisannya ya mas hehe

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: