Al-Quran & Pandangan Filosofis Tentang Sumber Ilmu

Di dalam Alquran terdapat beberapa ayat yang dijadikan landasan dalam membangun pemikiran filsafati mengenai sumber ilmu (pengetahuan) diantaranya :

  1. Alquran Surah Thaha ayat 98: Sesungguhnya Tuhan kamu sekalian ialah Allah. Tiada Tuhan selain Dia, pengetahuanNya meliputi segala sesuatu.
  2. Alquran Surah Al-Hasyr ayat 22: Dia lah Allah yang tiada Tuhan selain Dia. Yang Maha Mengetahui yang ghaib maupun yang nyata. Dia Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
  3. Alquran Surah At-Thalaq ayat 12: Dan sesungguhnya Allah, ilmuNya meliputi segala sesuatu.
  4. Alquran Surah An-Nahl ayat 74: Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, sesungguhnya Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.
  5. Alquran Surah An-Nahl ayat 78: Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut (kandungan) ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur.
  6. Alquran Surah Al-‘Alaq ayat 3-5: Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Yang mengajar dengan qalam. Mengajar manusia apa-apa yang tidak diketahuinya.
  7. Alquran Surah Al-Anbiya ayat 7: Maka bertanyalah kamu kepada orang yang mengetahui (ahl az zikr) jika kamu tidak mengetahui.
  8. Alquran Surah Ar-Rahman ayat 1-4: (Tuhan) Yang Maha Rahman. Yang mengajarkan Alquran. Yang menciptakan manusia. Mengajarkannya al Bayan.
  9. Alquran Surah An-Nahl ayat 89: Dan Kami turunkan kepadamu kitab, untuk menjadi penjelas (bayan) terhadap sesuatu.
  10. Alquran Surah Ali Imran ayat 118: Sungguh kami menjelaskan kepadamu ayat-ayat Kami, jika kamu menggunakan akalmu.

Dari ayat-ayat Alquran tersebut di atas dapat diturunkan beberapa makna mendasar yang daripadanya bisa dirumuskan pandangan filosofis mengenai sumber ilmu (pengetahuan). Makna-maka mendasar tersebut ialah :

  1. Bahwa manusia tidak membawa pengetahuan sejak awal diciptakan/dilahirkan (An Nahl: 78), karena itu tidak mungkin menempati posisi sebagai sumber ilmu. Sesuatu yang pada mulanya tidak memiliki tidak mungkin menjadi sumber, karena ia juga hanya berposisi sebagai yang memperoleh.
  2. Hanya Allah yang Maha Mengetahui segala sesuatu (Thaha 98, At Thalaq 12), yang ilmuNya meliputi yang ghaib maupun yang nyata (Al Hasyr 22).
  3. Pada hakikatnya hanya Allah yang Maha Mengetahui dan manusia pada hakikatnya tidak mengetahui (An Nahl 74).
  4. Manusia dikaruniakan Tuhan “peralatan”, “jalan” dan petunjuk yang secara potensial memungkinkan ia memperoleh ilmu (An Nahl 74, Ar Rahman 1-4, An Nahl 89, Ali Imran 118, Al Anbiya 7, Thaha 98, Al Hasyr 22).
  5. Perolehan ilmu oleh manusia adalah perolehan dengan perantaraan (knowledge by…), yakni segala perantara (bil) yang meniscayakan (qalam) ilmu itu diredhai oleh Allah untuk diperolehnya, sebagai perwujudan Allah mengajarkan (‘allama) kepada manusia apa-apa yang tidak diketahuinya (ma lam ya ‘lam).
  6. Segala ilmu yang diusahakan oleh manusia untuk diperolehnya, pada hakikatnya tercakup dan merupakan ilmu Allah.

Dari makna-makna mendasar di atas, maka filsafat Ilmu Islami berpandangan bahwa satu-satunya sumber pengetahuan ialah Allah SWT. Dengan pandangan filsafati bahwa hanya Allah sumber ilmu, tidak berarti bahwa manusia tidak memiliki keniscayaan memiliki ilmu. Sebagai sumber ilmu yang menyatakan diriNya mengajarkan kepada manusia apa-apa yang tidak diketahuinya, Dia telah melengkapi manusia segala peralatan dan jalan yang meniscayakan manusia mengusahakan perolehan ilmu (Al ‘Alaq 3-5). Yang meniscayakan manusia memperoleh ilmu ialah peralatan indrawi lahiriayah as sam’a (kemampuan mendengar), al abshar (kemampuan melihat, berpandangan), serta indra batiniyah (al af’idah) dan kemampuan berakal (An nahl 74 dan Ali Imran 118). Peralatan diri (qalam internal) yang meniscayakan ilmu tersebut berada pada diri manusia sebagai peralatan dengan potensialitas internal untuk berilmu.

Kemudian diantara manusia, ada yang menjadi “jalan” lebih lanjut bagi manusia lain untuk memperoleh ilmu, mereka itu adalah disebut ahl al zikr (Al Anbiya 7) yaitu mereka yang diberi otoritas oleh Allah sebagai jalan bagi manusia lain untuk memperoleh bagian kecil tentunya dari ilmuNya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: