Sumber Pengetahuan

Terdapat berbagai upaya yang dapat dilakukan oleh manusia untuk memperoleh pengetahuan, misalnya ia dapat melakukannya dengan jalan bertanya kepada orang lain (yang memiliki otoritas) yang dianggapnya lebih tahu, atau ia dapat melakukannya melalui indra, akal sehat, intuisi atau dengan coba-coba. Upaya-upaya serta cara-cara tersebut merupakan sumber-sumber pengetahuan yang mungkin, yang dapat dipergunakan dalam memperoleh pengetahuan.

a. Orang yang Memiliki Otoritas
Titus et.al (1984) mengawali penjelasan mengenai hal ini dengan ilustrasi pertanyaan, bagaimana kita mengatahui bahwa Socrates dan Julius Caesar pernah hidup di dunia?, apakah mereka itu orang-orang khayalan seperti nama-nama lain yang kita baca dalam mitologia dan novel-novel moderen?, Jawabannya adalah kita punya pengetahuan tentang Socrates dan Julius Caesar sebagai orang-orang yang pernah ada dan hidup di dunia, yakni dari “kesaksian” orang-orang yang pernah ada serta hidup sezaman dan setempat dengan mereka, serta juga ahli-ahli sejarah. Artinya ada orang yang ditempatkan sebagi yang memiliki “otoritas” sebagai sumber pengetahuan mengenai hal yang ingin diketahui, yaitu mereka yang punya kesaksian dari pengalaman dan pengetahuan yang berkenaan dengan itu.

Pada zaman moderen ini, orang yang ditempatkan memiliki otoritas, misalnya dengan pengakuan melalui gelar, termasuk juga dalam hal ini misalnya, hasil publikasi resmi mengenai kesaksian otoritas tersebut, seperti buku-buku atau publikasi resmi pengetahuan lainnya.
Namun, penempatan otoritas sebagai sumber pengetahuan tidaklah dilakukan dengan penyandaran pendapat sepenuhnya, dalam arti tidak dilakukan secara kritis untuk tetap bisa menilai kebenaran dan kesalahannya.

b. Indra
Indra adalah peralatan pada diri manusia sebagai salah satu sumber internal pengetahuan. Guna memahami posisi indra sebagai sumber pengetahuan, biasanya diajukan pertanyaan misalnya, bagaimana mengetahui bahwa besi memuai bila dipanaskan?, atau air membeku bila didinginkan hingga mencapai derajat kedinginan tertentu?. Terhadap pengetahuan semacam ini, filsafat science modern berpandangan bahwa indralah yang menjadi sumbernya.
Bahkan pandangan empirisme yang diterapkan dalam filsafat science modern menyatakan bahwa pengetahuan pada dasarnya adalah dan hanyalah pengalaman-pengalaman konkrit kita yang terbentuk karena persepsi indra, seperti persepsi penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman dan pencicipan dengan lidah.
Namun dalam menempatkan indra sebagai sumber pengetahuan, juga ditekankan pentingnya kehati-hatian, utamanya terhadap kemungkinan pengaruh prasangka dan emosi yang akan merusak obyektifitas. Dalam hal ini diingatkan akan kecenderungan kodrati dimana orang dipengaruhi keinginan hanya melihat apa yang ingin dilihatnya dan atau melihat apa yang ia telah terlatih untuk melihatnya. Sebab yang diharapkan di sini (dengan persepsi indra ini) sebenarnya adalah penampakan (appearance) sesuatu menurut kenyataanya (realitasnya).

c. Akal
Dalam kenyataannya ada pengetahuan tertentu yang bisa dibangun oleh manusia tanpa harus atau tidak bisa mempersepsinya dengan indra terlebih dahulu. Manusia bisa membangun pengetahuan, misalnya dari anggapan dua entitas yang masing-masing sama besarnya dengan entitas ketiga adalah entitas sama besar. Pengetahuan semacam itu jelas dengan sendirinya (tanpa persepsi indra) karena ada akal yang memungkinkannya. Argumentasi ini dibangun oleh filsuf ilmu sekuler untuk melandasi pemikiran mereka mengenai akal sebagai sumber pengetahuan.
Beritik tolak dari kenyataan tersebut, maka filsafat ilmu sekuler menempatkan akal sebagai salah satu sumber pengetahuan yang mungkin untuk memperoleh pengetahuan ilmiah. Pandangan ini merupakan representasi dari pandangan filsafat rasionalisme, yang dalam pandangan moderatnya berpendirian bahwa manusia memiliki potensi mengetahui dengan pasti dengan sendirinya, tentang beberapa hal yang relevan. Misalnya kenyataan-kenyataan: bahwa keseluruhan adalah lebih besar dari bagian-bagiannya; satu adalah separuh dari dua; keliling lingkaran lebih besar dari garis tengahnya, adalah merupakan pengetahuan yang dapat diketahui dengan pasti dan dengan sendirinya karena potensi akal.

d. Intuisi
Mengawali pembicaraan mengenai intuisi sebagai salah satu sumber pengetahuan yang mungkin, dalam Living Issues in Philosophy, Titus, Smith dan Nolan mengantarnya dengan sebuah pertanyaan, bagaimana kita mengetahui, misalnya jika kita kebetulan bertemu dengan seseorang untuk pertama kali, kemudian kita mengetahui bahwa orang tersebut dapat dipercaya?. Apakah kita mempunyai rasa (sense) atau intuisi yang kadang-kadang memberi kita pengetahuan yang langsung tentang situasi kita?. Pertanyaan tersebut dikemukakan oleh Titus untuk membicarakan bahwa suatu sumber pengetahuan yang mungkin adalah intuisi atau pemahaman yang langsung tentang pengetahuan yang tidak merupakan hasil pemikiran yang sadar atau persepsi rasa yang langsung.
George Santanaya (dalam Titus et al, 1984) memakai istilah intuisi dalam arti kesadaran tentang data-data yang langsung dirasakan. Misalnya sewaktu kita mendengar bunyi, maka selain kita mendengar, kita juga sadar tentang pendengaran kita dan sadar tentang diri kita sebagai yang mendengar. Jadi menurut Titus, Smith dan Nolan (1984) intuisi terdapat dalam pengetahuan tentang diri sendiri, kehidupan diri sendiri dan dalam aksioma matematika. Intuisi ada dalam pemahaman kita tentang hubungan antara kata-kata (preposition) yang membentuk bermacam-macam langkah dari argumen. Unsur intuisi adalah dasar dari pengakuan kita terhadap keindahan, ukuran moral yang kita terima dari nilai-nilai agama.

2 Balasan ke Sumber Pengetahuan

  1. vieidjo mengatakan:

    akan lebih baik bila dikelompokkan…
    pada tiap tiap sumber, ada pengantar, pengertian dan contoh…😀

  2. salmiah harahap mengatakan:

    trims atas infony, sangat membantu saya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: