Penelitian Bid. Kehidupan Beragama

INVESTIGASI KONSEP PLURALISME KEAGAMAAN DAN
LOYALITAS MASYARAKAT KEPADA TOKOH AGAMA
DI SULAWESI UTARA

(Disajikan Pada Temu Riset Keagamaan Nasional VI, 13-16 Okt 2008 di Hotel Sahid Raya Jogyakarta)

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengungkap secara empiris pengaruh status sosial dan ekonomi, partisipasi keagamaan, konsep pluralism keagamaan, kebutuhan masyarakat Muslim dan Kristen kepada tokoh agama, dan karisma tokoh agama terhadap loyalitas masyarakat kepada mereka di Sulawesi Utara. Disamping itu, penilitian ini bermaksud mengungkap pengaruh modernitas yang dieksperesikan dalam indikator tempat domisili (pedesaan atau perkotaan) terhadap tingkat partisipasi keagamaan masyarakat, pola konsep pluralisme keagamaan, kebutuhan masyarakat kepada tokoh agama, karisma tokoh agama, dan loyalitas masyarakat kepada tokoh agama; sekaligus mencoba menguji pengaruh perbedaan agama (Islam dan Kristen) dalam empat model atau hipotesis yang diuji berdasarkan perbedaan konsep pluralisme terhadap lima variabel tersebut di Sulawesi Utara.

Penelitian ini melibatkan empat ratus sembilan puluh tiga (493) orang responden dari Kota Manado (n=247) dan Kabupaten Bolaang Mongondow (n=246) dengan menggunakan enam puluh (60) item indikator konsep dan tiga belas (13) item indikator latar belakang responden.

Validasi instrumen memakai prosedur Rating Scale (Rasch Measurement Model). Skor yang dipakai dalam analisis utama untuk variabel Kebutuhan kepada Tokoh Agama, Karisma Tokoh Agama dan Loyalitas kepada Tokoh Agama menggunakan hasil transformasi raw score (data mentah) hasil estimasi Rating Scale.

Empat model yang merepresentasikan asumsi atau hipotesis studi ini diajukan untuk diuji dengan menggunakan prosedur Partial Least Squares (PLS) Path. Tujuan penggunaan prosedur ini untuk melihat karakter hubungan antar variabel yang dilibatkan dalam analisis. Variabel terdiri dari dua belas variable exogenous dan empat variabel endogenous. Loyalitas kepada Tokoh Agama merupakan variabel outcome dalam empat model yang diajukan. Keempat model tersebut dibedakan berdasarkan model konsep pluralisme, yaitu pluralisme monis, komunal, differential dan relativis. Nilai statistik yang diperhatikan sebagai parameter tingkat kelayakan dan kemampuan prediktif model studi adalah loading dan weight untuk outer/measurement model, beta dan jacknife mean untuk path coefficient.

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengungkap secara empiris pengaruh status sosial dan ekonomi, partisipasi keagamaan, konsep pluralism keagamaan, kebutuhan masyarakat Muslim dan Kristen kepada tokoh agama, dan karisma tokoh agama terhadap loyalitas masyarakat kepada mereka di Sulawesi Utara. Disamping itu, peneilitian ini bermaksud mengungkap pengaruh modernitas yang dieksperesikan dalam indikator tempat domisili (pedesaan atau perkotaan) terhadap tingkat partisipasi keagamaan masyarakat, pola konsep pluralisme keagamaan, kebutuhan masyarakat kepada tokoh agama, karisma tokoh agama, dan loyalitas masyarakat kepada tokoh agama; sekaligus mencoba menguji pengaruh perbedaan agama (Islam dan Kristen) dalam empat model atau hipotesis yang diuji berdasarkan perbedaan konsep pluralisme terhadap lima variabel tersebut di Sulawesi Utara.

Analisis utama atas empat model tersebut menunjukkan beberapa hasil penting, yaitu sebagai berikut: (a) Tempat domisili warga masyarakat dengan kategori pedesaan dan perkotaan yang merepresentasikan keterlibatan dan keterbukaan mereka terhadap proses modernitas memiliki pengaruh yang sangat penting terhadap tingkat partisipasi keagamaan masyarakat, tingkat kebutuhan masyarakat kepada tokoh agama, karisma tokoh agama di mata masyarakat, dan loyalitas masyarakat kepada tokoh agama; (b) Model konsep pluralisme yang dipahami dan diyakini anggota masyarakat memberikan pengaruh sangat penting dalam menentukan karakter hubungan antar variabel dalam empat model yang diajukan untuk diuji; (c) Status ekonomi dan partisipasi keagamaan memiliki pengaruh pada variabel tertentu, akan tetapi pengaruh ini cenderung tergantung pada karakter atau model konsep pluralisme yang diyakini warga masyarkat. Misalnnya, status ekonomi ditemukan berpengaruh positif pada model yang menggunakan konsep pluralisme differential sebagai salah satu variabel dan sebaliknya berpengaruh negatif pada model yang menggunakan konsep pluralisme relativis; (d) Kebutuhan kepada tokoh agama dan karisma tokoh agama ditemukan berpengaruh secara signifikan pada loyalitas kepada tokoh agama dalam semua (empat) model yang diuji; (e) Perbedaan gender dan perbedaan agama ditemukan juga berpengaruh pada variabel tertentu dalam model dengan karakter konsep pluralisme tertentu. Misalnya, perbedaan agama dan gender ditemukan berpengaruh secara signifikan pada model konsep pluralisme differential, akan tetapi pengaruh serupa tidak ditemukan dalam model konsep pluralisme yang lain; (f) Loyalitas yang tinggi terhadap tokoh agama tidak selamanya menunjukkan bahwa tokoh agama memiliki karisma yang tinggi dalam persepsi anggota masyarakat tertentu. Warga masyarakat yang melaporkan diri memiliki tingkat partisipasi keagamaan private lebih tinggi menunjukkan tingkat persepsi karisma tokoh agama yang lebih rendah, meskipun melaporkan tingkat loyalitas yang tinggi kepada tokoh agama mereka. Dengan demikian, tidak selamanya persepsi tingkat karisma tokoh agama berjalan secara harmonis dengan tingkat loyalitas kepada mereka; (g) Kecenderungan bersikap relativis dalam melihat hubungan antar agama memiliki pengaruh negatif terhadap signifikansi peran tokoh agama dalam masyarakat; dan terakhir (h) Orang Kristen menunjukkan tingkat kebutuhan kepada tokoh agama mereka yang lebih tinggi dari pada orang-orang Islam. Hal ini mungkin terkait dengan perbedaan tingkat pendidikan dan ekonomi tokoh-tokoh agama antara masyarkat Kristen dan Muslim.

Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa perbedaan karakter tempat domisili masyarakat sangat penting pengaruhnya terhadap pembentukan model konsep pluralisme keagamaan yang dianut oleh suatu masyarakat. Selanjutnya, posisi tokoh agama dalam suatu masyarakat memiliki kecenderungan besar untuk ditentukan oleh tingkat kebutuhan anggota masyarakat kepada mereka. Tingkat kebutuhan ini sendiri dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk status sosial dan ekonomi serta tingkat partisipasi keagamaan anggota masyarakat.

Selanjutnya, untuk menjelaskan bagaimana proses pembentukan karakter hubungan antar konsep atau variabel yang diuji dan teridentifikasi dalam studi ini membuntuhkan studi lanjut dengan pendekatan yang lebih grounded untuk menjelaskan lebih dalam dan rinci dengan prosedur kualitatif guna membangun makna-makna konstruksi yang lebih relevan dan teruji.

Download Makalah selengkapnya disini.

3 Balasan ke Penelitian Bid. Kehidupan Beragama

  1. M. Nurul Ikhsan Saleh mengatakan:

    Saya mengunggah tulisan bapak ini, buat bahan bacaan. makasih banyak

  2. alfiya alfan mengatakan:

    saya mengambil tuisan bapak ini sebagai bahan acuan perkuliahan… bentuk perbandingan dari pendapat yang lain

  3. Natassya mengatakan:

    Salam kenal pak saya ingin bertanya mengenai buku yang bapak pakai sebagai referensi penelitian ini. terutama yang membahas tentang konsep-konsep pluralisme pak. terimakasih sebelumnya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: